Selasa, 26 April 2016

KOLEKSI PERPUSTAKAAN

MANAJEMEN PENGEMBANGAN KOLEKSI
Oleh : Eddy Partamihardja
Pustakawan Madya, KAPD Kota Bogor

1.1.Pendahuluan.
          Perpustakaan telah hadir dimasyarakat selama berabad-abad. Kehadirannya sampai saat ini tetap dipertahankan karena memiliki fungsi sebagai lembaga pelayanan publik yang berperan sebagai pusat kegiatan belajar, informasi (ilmiah dan umum), layanan referensi, pusat penelitian maupun kebudayaan.
Perpustakaan adalah sebuah ruangan, bagian dari sebuah gedung ataupun gedung tersendiri yang digunakan untuk menyimpan buku serta terbitan lainnya. Bahan-bahan pustaka ini disimpan menurut tata susunan tertentu untuk kepentingan pembaca, bukan untuk dijual dengan tujuan mencari untung (Sulistyo-Basuki, 1991: 43)
Sedangkan Menurut  UU No. 43 tahun 2007 tetang perpustakaan Pasal 1 yakni adalah institusi pengelola koleksi karya tulis, karya cetak, dan atau/atau karya rekam secara profesional dengan sistem yang baku guna memenuhi kebutuhan pendidikan, penelitian, pelestarian, informsi, dan rekreasi para pemustaka.     

               Dari pengertian tersebut terlihat bahwa Perpustakaan memiliki karakteristik khusus yakni tempat penyimpanan, koleksi, sistem atau aturan penyusunan koleksi, pemustaka dan tidak dikomersilkan. Koleksi menjadi salah satu komponen utama yang harus dimiliki oleh sebuah perpustakaan. Tanpa keberadaan koleksi, perpustakaan tidak akan mampu memenuhi tugasnya sebagaimana yang telah diatur dalam pasal 4 UU No. 43 tahun 2007 yakni “memberikan layanan kepada pemustaka, meningkatkan kegemaran membaca, serta memperluas wawasan dan pengetahuan untuk mencerdaskan bangsa. “Tujuan ini secara tidak langsung memberikan amanat agar perpustakaan membantu Pemerintah untuk turut andil menyukseskan pendidikan di Indonesia.
              Dengan memenuhi kebutuhan informasi pemustaka melalui penyediaan jasa layanan secara maksimal. Purnomowati mengungkapkan bahwa, didalam ISO 11620 terbitan tahun 1998 salah satu indikator penilaian keberhasilan layanan perpustakaan adalah kepuasan pengguna (Purnomowati, 2003:39). Bila dikaitkan dengan keberadaan perpustakaan sebagai lembaga penyedia informasi, kepuasan pengguna yang dimaksud berkaitan dengan ketersediaan koleksi dalam berbagai format relevan yang dapat memenuhi kebutuhan informasi para pengguna. Oleh karena itu, perpustakaan perlu menyiapkan perencanaan matang mengenai penyediaan layanan koleksi yang sesuai dengan kebutuhan para penggunanya sehingga pada akhirnya dapat menciptakan 
MANAJEMEN PENGEMBANGAN KOLEKSI
Oleh : Eddy Partamihardja
Pustakawan Madya, KAPD Kota Bogor

1.1.Pendahuluan.
Perpustakaan telah hadir dimasyarakat selama berabad-abad. Kehadirannya sampai saat ini tetap dipertahankan karena memiliki fungsi sebagai lembaga pelayanan publik yang berperan sebagai pusat kegiatan belajar, informasi (ilmiah dan umum), layanan referensi, pusat penelitian maupun kebudayaan.
Perpustakaan adalah sebuah ruangan, bagian dari sebuah gedung ataupun gedung tersendiri yang digunakan untuk menyimpan buku serta terbitan lainnya. Bahan-bahan pustaka ini disimpan menurut tata susunan tertentu untuk kepentingan pembaca, bukan untuk dijual dengan tujuan mencari untung (Sulistyo-Basuki, 1991: 43)
Sedangkan Menurut  UU No. 43 tahun 2007 tetang perpustakaan Pasal 1 yakni adalah institusi pengelola koleksi karya tulis, karya cetak, dan atau/atau karya rekam secara profesional dengan sistem yang baku guna memenuhi kebutuhan pendidikan, penelitian, pelestarian, informsi, dan rekreasi para pemustaka.     

Dari pengertian tersebut terlihat bahwa Perpustakaan memiliki karakteristik khusus yakni tempat penyimpanan, koleksi, sistem atau aturan penyusunan koleksi, pemustaka dan tidak dikomersilkan. Koleksi menjadi salah satu komponen utama yang harus dimiliki oleh sebuah perpustakaan. Tanpa keberadaan koleksi, perpustakaan tidak akan mampu memenuhi tugasnya sebagaimana yang telah diatur dalam pasal 4 UU No. 43 tahun 2007 yakni “memberikan layanan kepada pemustaka, meningkatkan kegemaran membaca, serta memperluas wawasan dan pengetahuan untuk mencerdaskan bangsa. “Tujuan ini secara tidak langsung memberikan amanat agar perpustakaan membantu Pemerintah untuk turut andil menyukseskan pendidikan di Indonesia                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                               dengan memenuhi kebutuhan informasi pemustaka melalui penyediaan jasa layanan secara maksimal. Purnomowati mengungkapkan bahwa, didalam ISO 11620 terbitan tahun 1998 salah satu indikator penilaian keberhasilan layanan perpustakaan adalah kepuasan pengguna (Purnomowati, 2003:39). Bila dikaitkan dengan keberadaan perpustakaan sebagai lembaga penyedia informasi, kepuasan pengguna yang dimaksud berkaitan dengan ketersediaan koleksi dalam berbagai format relevan yang dapat memenuhi kebutuhan informasi para pengguna. Oleh karena itu, perpustakaan perlu menyiapkan perencanaan matang mengenai penyediaan layanan koleksi yang sesuai dengan kebutuhan para penggunanya sehingga pada akhirnya dapat menciptakan